Orang yang melanggar lampu merah itu bodoh, kecuali karena ngantuk, rem blong, atau buta warna.

Orang yang membuang sampah sembarangan itu bodoh, kecuali dia baru terdampar di pulau terpencil bertahun-tahun.
Tapi yang lebih bodoh lagi, orang yang ikut-ikutan orang bodoh. Yang paling bodoh, orang yang menganggap kebodohan-kebodohan itu hal biasa. Saya tidak akan membahas kenapa dua contoh di atas saya anggap bodoh. Saya yakin Anda adalah seorang manusia berakal yang bisa melogikakan sebab-akibat dari hal-hal di atas.
Bicara tentang akal, saya memiliki sebuah quote dari Pak Habibie saat beliau memberikan kuliah umum berjudul Indonesia 2045: Superpower Baru?: “My brain is my teacher.” Sependapat dengan beliau, menurut saya, ikut-ikutan dan menerima mentah-mentah adalah budaya yang sepatutnya tidak dilakukan. Kalaupun tindakannya sama, harusnya itu merupakan hasil berpikir diri sendiri. Kedua budaya bodoh ini harus dikucilkan dan ditinggalkan kemudian dialihkan ke budaya berpikir. Ya, BUDAYA BERPIKIR!
Berpikir erat kaitannya dengan penggunaan akal. Dalam bahasa Indonesia, akal berarti daya pikir, pikiran, atau ingatan. Akal jugalah yang merupakan pembeda manusia dengan makhluk lain (hewan dan tanaman) dan menjadikan manusia makhluk yang lebih mulia dari mereka. Dalam Al-Qur’an, ajakan untuk menggunakan akal (berpikir) dan ancaman kepada mereka yang tidak melakukannya disebutkan. Beberapa contohnya adalah:

QS. 2:164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

QS. 13:4. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanama yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.

QS. 57:17. Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) supaya kamu memikirkannya.

QS. 10:100. Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mempergunakan akalnya.
Untuk bacaan lebih lanjut tentang akal menurut Al-Qur’an, Anda dapat melihat e-book berjudul Akal Menurut Al-Quran & Neurosains ini.

Sejarah pun menunjukkan bahwa dinamika intelektual (budaya berpikir) merupakan hal vital yang menentukan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Sebut saja bangsa Babilonia, Yunani, Arab, dan kemudian Eropa sebagai kasus nyatanya. Bangsa Yunani yang besar dengan ilmu filosofinya segera tenggelam setelah nafsu berpikir mereka meredup. Bangsa Arab yang semula hidup dalam kungkungan tradisi jahiliah mampu menguasai dunia setelah mengembangkan budaya berpikir yang diajarkan Islam. Akan tetapi, ketika  tradisi berpikir itu melemah dan menghilang, dunia didominasi oleh bangsa Eropa yang telah mengalami pencerahan setelah berabad-abad hidup sebagai barbar. Saat ini pun, kasus serupa dapat dilihat dari majunya negara seperti Amerika Serikat dan Jepang. Kedua negara tersebut mampu memberi contoh betapa inovasi dan keunggulan teknologi sebagai hasil dari budaya berpikir menjadi modal dasar mereka menguasai ekonomi dunia. Bahkan, Cina dan India dapat dijadikan contoh negara yang berhasil menjadikan budaya berpikir sebagai kunci kebangkitannya. Jadi, mulai sekarang, mari budayakan berpikir dan jangan ikut-ikutan!
Kebodohan adalah kematian sebelum pemiliknya mati, meskipun jasad mereka belum masuk ke liang kubur.
Tak peduli apa yang orang lain katakan atau lakukan, aku berkata dan berlaku menurut apa yang kuanggap benar sampai aku dibuktikan salah.

Lestarikan konflik! Kenapa? Karena konfliklah yang membuat manusia terus berpikir. Konflik membuat manusia ingin melakukan lebih dan maju. Konfliklah yang membuat dunia berputar.

Jangan memutuskan terlalu cepat tentang apa itu konflik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konflik berarti perselisihan atau pertentangan. According to Longman Dictionary of Contemporary English, conflict means a state of disagreement or argument between opposing groups or opposing ideas or priciples. Jika menurut saya sendiri, konflik dapat diartikan sebagai masalah. Sekarang saya tanya, “Siapa yang mau dapat masalah?” Hampir dapat dipastikan tidak ada yang mau. Tapi, toh dalam hidup kita pasti menemui masalah. Kalau diturunkan, terjadi pertentangan antara alam dan manusia. Kita ambil contoh hujan. Apa yang dilakukan “manusia dahulu kala” saat hujan turun? Berteduh? Menggunakan daun lebar (daun pisang) sebagai alat teduh yang bisa dibawa “jalan-jalan”? Atau bagaimana? Yang pasti mereka tidak langsung menggunakan payung karena payung adalah hasil penyelesaian konflik antara manusia dengan hujan yang digunakan pertama kali di China pada tahun 21 B.C., dan hujan pertama pasti telah terjadi sebelum itu kan? :D

Lalu bagaimana dengan kasus perang antarnegara? Ambil contoh, negara A sedang mengalami konflik energi. Untuk memenuhi kebutuhan energinya yang tinggi, negara A menginvasi negara B yang merupakan negara kaya minyak. Dari invasi tersebut negara A berharap konflik energinya bisa teratasi. Benarkah itu? Kalau menurut saya sih gampang saja: itu salah. Itu adalah produk konflik yang arahnya menyimpang, keuntungan satu pihak yang merugikan pihak lain. Nah, dari sini diketahui bahwa yang sulit itu adalah caranya mengarahkan konflik. Inilah tantangannya!

Kalau dilihat-lihat, akhir-akhir ini Indonesia mengalami banyak konflik. Kalau disebutkan pasti puanjuang sekali. Bagaimana hayo menyelesaikannya? Saya juga masih bingung mau apa, mulai dari apa, dan dengan apa. Sampai saat ini sih saya hanya mampu berjuang menyelesaikan hal-hal biasa dan berharap semoga semua masalah yang saya hadapi membuat saya semakin cerdas, tangguh, tahan banting, dan bermoral. Kamu?

NB: Masalah bukan untuk dicari, tapi untuk dirumuskan dan diatasi.


Hahahahaha! Ini titik perubahan.