Budaya Berpikir
Orang yang melanggar lampu merah itu bodoh, kecuali karena ngantuk, rem blong, atau buta warna.
Orang yang membuang sampah sembarangan itu bodoh, kecuali dia baru terdampar di pulau terpencil bertahun-tahun.
QS. 2:164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
QS. 13:4. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanama yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
QS. 57:17. Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) supaya kamu memikirkannya.
Kebodohan adalah kematian sebelum pemiliknya mati, meskipun jasad mereka belum masuk ke liang kubur.
Tak peduli apa yang orang lain katakan atau lakukan, aku berkata dan berlaku menurut apa yang kuanggap benar sampai aku dibuktikan salah.
Filed under: Opini | Leave a Comment
Tags: akal, Al-Qur'an, pikir
Lestarikan Konflik
Lestarikan konflik! Kenapa? Karena konfliklah yang membuat manusia terus berpikir. Konflik membuat manusia ingin melakukan lebih dan maju. Konfliklah yang membuat dunia berputar.
Jangan memutuskan terlalu cepat tentang apa itu konflik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konflik berarti perselisihan atau pertentangan. According to Longman Dictionary of Contemporary English, conflict means a state of disagreement or argument between opposing groups or opposing ideas or priciples. Jika menurut saya sendiri, konflik dapat diartikan sebagai masalah. Sekarang saya tanya, “Siapa yang mau dapat masalah?” Hampir dapat dipastikan tidak ada yang mau. Tapi, toh dalam hidup kita pasti menemui masalah. Kalau diturunkan, terjadi pertentangan antara alam dan manusia. Kita ambil contoh hujan. Apa yang dilakukan “manusia dahulu kala” saat hujan turun? Berteduh? Menggunakan daun lebar (daun pisang) sebagai alat teduh yang bisa dibawa “jalan-jalan”? Atau bagaimana? Yang pasti mereka tidak langsung menggunakan payung karena payung adalah hasil penyelesaian konflik antara manusia dengan hujan yang digunakan pertama kali di China pada tahun 21 B.C., dan hujan pertama pasti telah terjadi sebelum itu kan?
Lalu bagaimana dengan kasus perang antarnegara? Ambil contoh, negara A sedang mengalami konflik energi. Untuk memenuhi kebutuhan energinya yang tinggi, negara A menginvasi negara B yang merupakan negara kaya minyak. Dari invasi tersebut negara A berharap konflik energinya bisa teratasi. Benarkah itu? Kalau menurut saya sih gampang saja: itu salah. Itu adalah produk konflik yang arahnya menyimpang, keuntungan satu pihak yang merugikan pihak lain. Nah, dari sini diketahui bahwa yang sulit itu adalah caranya mengarahkan konflik. Inilah tantangannya!
Kalau dilihat-lihat, akhir-akhir ini Indonesia mengalami banyak konflik. Kalau disebutkan pasti puanjuang sekali. Bagaimana hayo menyelesaikannya? Saya juga masih bingung mau apa, mulai dari apa, dan dengan apa. Sampai saat ini sih saya hanya mampu berjuang menyelesaikan hal-hal biasa dan berharap semoga semua masalah yang saya hadapi membuat saya semakin cerdas, tangguh, tahan banting, dan bermoral. Kamu?
NB: Masalah bukan untuk dicari, tapi untuk dirumuskan dan diatasi.
Filed under: Opini | 2 Comments
Tags: konflik